Bangunlah
Dunia ini kembali! Bangunlah Dunia ini kokoh kuat dan sehat! Bangunlah
suatu Dunia dimana semua semua bangsa hidup damai dalam persaudaraan!
Bangunlah Dunia yang sesuai dengan impian dan cita-cita umat manusia
(Pidato Bung Karno, Membangun Dunia Kembali To Build The World A New 30 September 1960)
Presiden
Soekarno atau biasa dipanggil Bung Karno, seorang pemimpin bangsa tidak
hanya mengantarkan Indonesia kepada Kemerdekaan, tetapi juga sosok yang
mempunyai karisma, intelektualitas, serta visi yang tinggi melalui
berbagai pemikirannya. Sebagai Presiden pertama, Bung karno berhasil
meletakan pondasi-pondasi yang kuat dalam pemerintahan dan kenegaraan.
Pemikiran-pemikiran
Bung Karno tidak pernah surut dari pembicaraan setiap orang. Beberapa
asil pemeikiran yang dituangkan dalam membangun pondasi Negara kesatuan
Indonesia yaut sebagai penggali karakteristik bangsa yang dituangkan
dalam Pancasila; ikut dalam perumusan UUD 1945. disertai konsep maupun
ideologi yang telah disusun selama pra dan pasca kemerdekaan.
Karya
terbesar atas pemikiran bung karno yaitu Marhaenisme yang dicetuskan
pada tahun 1927. Marhaenisme dipahami sebagai teori perjuangan,
sekaligus sebagai teori politik, oleh para penganutnya. Marhaenisme
lahir sebagai jawaban terhadap praktis kolonialisme dan imperialisme
penjajah Belanda di tanah air. Tiang penyangga ajaran ini adalah sosio
nasionalisme dan sosio demokrasi. Oleh karena itu, penganut marhaen
(Marhaenis), acapkali menyimpulkan marhaenisme sebagai ”Pancasila
Besar”. Maksudnya, apa yang terkandung di dalam lima sila (Pancasila)
sudah tercantum dalam ajaran Marhaenisme. Seorang marhaenis fanatis,
punya rumus yang baik yaitu: Pancasila + Ketuhanan yang Maha Esa =
Marhaenisme.
SEJARAH MARHAENISME
Marhaenisme diambil dari
nama Marhaen, sosok petani miskin yang pernah ditemui Sukarno. Kondisi
prihatin yang dialami seorang petani miskin itu telah menerbitkan
inspirasi bagi Sukarno untuk mengadopsi gagasan tentang kaum proletar
yang khas Marxisme. Belum diketahui dengan pasti – sebab Sukarno hanya
menceritakan pertemuannya saja – kapan pertemuan dengan petani itu
belangsung. Sehingga banyak pihak yang mempertanyakan, benarkah ada
pertemuan itu? Ataukah pertemuan itu hanya rekaan Sukarno saja? Belum
ada jawaban pasti.
Namun dalam Penyambung Lidah Rakyat (Cindy
Adams) ia bercerita mengenai pertemuan itu terjadi di Bandung selatan
yang daerah persawahannya terhampar luas. Ia menemui seorang petani yang
menggarap sawahnya dan menanyakan kepemilikan dan hasil dari sawah itu.
Yang ia temukan adalah bahwa walaupun sawah, bajak, cangkul adalah
kepunyaan sendiri dan ia mengejakannya sendiri hasil yang didapat tidak
pernah mencukupi untuk istri dan keempat anaknya. Petani itu bernama
Marhaen. Namun, yang jelas, Sukarno mengembangkan gagasan sentral
Marhaenisme jelas-jelas bersumber pada Marxisme. Bahkan, banyak yang
menyatakan bahwa Marhaenisme merupakan Marxisme yang diterapkan di
Indonesia.
Sejak 1932, ideologi Marhaenisme telah mewarnai wacana
politik di Indonesia. Pada 4 July 1927 ia mendirikan PNI dimana
Marhaenisme menjadi asas dan ideologi partai di tahun 1930-an. Dalam
bukunya berjudul Indonesia Menggugat, Sukarno sangat menekankan
pentingnya penggalangan massa untuk sebuah gerakan ideologis. Menurut
penafsiran Sutan Syahrir, Marhaenisme sangat jelas menekankan
pengumpulan massa dalam jumlah besar. Untuk ini, dibutuhkan dua prinsip
gerakan yang kelak dapat dijadikan pedoman dalam sepak-terjang kaum
Marhaenis. Ditemukanlah dua prinsip Marhaenisme, yakni
sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi. Untuk menjelaskan kedua prinsip
itu, Sukarno telah mengadopsi pemikiran dari Jean Jaurhs (sosialis) dari
Perancis dan Karl Kautsky (komunis) dari Jerman. Ajaran Jaurhs yang
melawan sistem demokrasi parlementer digunakan oleh Sukarno untuk
mengembangkan sikap para Marhaenis yang wajib taat pada pemimpin
revolusi, tanpa boleh banyak tanya soal-soal yang pelik dalam bidang
politik.
Sedangkan dari Karl Kautsky, Sukarno makin dalam
mendapatkan keyakinan bahwa demokrasi parlementer merupakan sistem
masyarakat borjuis yang tidak mengenal kasihan pada kaum yang miskin.
Bahkan didalam bukunya yang berjudul “Dibawah Bendera Revolusi”, Sukarno
benar-benar terpengaruh oleh Kautsky, dengan menyatakan bahwa seseorang
tidak perlu untuk menjadi komunis jika hanya ingin mencermati demokrasi
sebagai benar-benar produk masyarakat borjuis.
Selanjutnya
Sukarno menyatakan bahwa setiap Marhaenis harus menjadi revolusioner
sosial, bukan revolusioner borjuis, dan sosok itu dijuluki Sukarno
sebagai sosio-nasionalisme atau nasionalisme marhaenis. Namun, pada 26
November 1932 di Yogyakarta, Sukarno menandaskan bahwa Partai Indonesia
dimana ia berkumpul, tidak menginginkan adanya pertarungan kelas. Disini
jelas Sukarno memperlihatkan awal watak anti-demokrasinya dan hendak
menafikan keberadaan pertarungan kelas sebagai tak terpisahkan untuk
memperjuangkan kelas lemah yang tertindas.
Kediktatoran Sukarno
juga mulai terlihat sejak konsep Marhaenisme berusaha diwujudkannya
menjadi ideologi partai. Syahrir dan Hatta yang memperkenalkan kehidupan
demokratis didalam Partindo (Partai Indonesia) pelan-pelan dipinggirkan
dan kehidupan partai mulai diarahkan pada disiplin ketat dan tunduk
pada pucuk pimpinan. Untuk menempuh ini Sukarno tidak menggunakan cara
yang ditempuh oleh Lenin yang pernah menjelaskan secara logis kepada
kelompok Mesheviks ketika Lenin menjadi diktator. Jalan yang ditempuh
Sukarno hanyalah sibuk dengan penjelasan-penjelasan pentingnya
keberadaan partai pelopor yang memiliki massa besar.
Bagi
Sukarno, menegakkan ideologi Marhaenisme lebih penting ketimbang
membangun kehidupan demokratis. Sembari mengutip Karl Liebknecht,
ideolog komunis Jerman, Sukarno menegaskan bahwa massa harus dibuat
radikal dan jangan beri kesempatan untuk pasif menghadapi revolusi.
Meski kelak sesudah kemerdekaan tercapai, penganut Marhaenisme cenderung
bergabung dengan partai Murba, namun Marhaenisme ini lebih menyepakati
tafsiran Tan Malaka tentang Marhaenisme.
POKOK- POKOK AJARAN MARHAENISME
Marhaenisme
mengangkat masalah penghisapan dan penindasan _rakyat kecil_yang
terdiri dari kaum tani miskin, petani kecil, buruh miskin, pedagang
kecil _ kaum melarat Indonesia _ yang dilakukan oleh para
kapitalis,tuan-tanah, rentenir dan golongan-golongan penghisap lainnya.
Ungkapan yang sering dipakai oleh Bung Karno, dan yang paling terkenal,
adalah exploitation de homme par homme (penghisapan manusia oleh manusia). Marhaenisme, yang telah dilahirkannya dan dikembangkannya antara tahun 1930-1933 merupakan pemikiran-pemikiran kiri yang senafas dengan Marxisme.
SELAMAT DATANG DI BLOG DPC GMNI INDRAMAYU
Merdeka!!!
GMNI Jaya...!
Marhaen...!
Blog ini dibuat sebagai media center Dewan Pimpinan Cabang GMNI Indramayu




